Tradisi Lebaran Idul Fitri dan Lebaran Ketupat

Tradisi lebaran di beberapa daerah Indonesia masing-masing mempunyai ciri khas sendiri dan bermacam-macam cara untuk menyambut kemenangan Hari Raya Idul Fitri, di pulau Jawa khususnya mempunyai 2 (dua) tradisi lebaran, yaitu lebaran Idul Fitri sendiri dan Lebaran Ketupat berbeda hari lagi.

Lebaran Hari Raya Idul Fitri seperti serentak dilakansakan sesuai ketentuan Pemerintah yang sudah di umumkan tanggal dan hari Raya Idul Fitri secara resmi. Kumandang Takbir menggema di seluruh pelosok Indonesia, setelah sidang Isbat Idul Fitri sudah diterbitkan. Keliling Kampung/Desa dari mulai anak-anak kecil sampai orang dewasa sambil bertakbir membuat suasana Kampung/Desa menjadi lebih meriah.

Keesokan harinya setelah sholat Subuh selesai setiap rumah di Desa, Ibu-ibu rumah tangga membuat Ambengan (makanan untuk merayakan suatu acara tertentu) kemudian Ambengan tersebut di bawa ke Mushola/Masjid, disana diletakan dengan Ambengan lainnya yang nantinya setelah Sholah Idul Fitri bisa dibagikan atau ditukar dengan Ambengan lainnya, kemudian disantap secara bersamaan, makna dari Ambengan ini adalah menumbuhkan semangat kekeluargaan, kebersamaan dan mensyukuri nikmat Allah SWT yang sudah mempertemukan bulan Ramadahan dengan ditutup Idul Fitri.

Baca Juga  SMP Terbuka 16 Bogor - Jawa Barat

Di Jakarta dan mungkin di berbagai daerah lainnya tradisi menyambut Lebaran Idul Fitri bersamaan dengan dibuatnya Ketupat sebagai hidangan penyambut tamu atau handai tolan yang berkunjung ke rumah. Tetapi berbeda dengan di daerah Jawa Timur pada umumnya, dimana membuat ketupat tidak bersamaan dengan Lebaran Idul Fitri, tetapi berbeda hari untuk tersendiri, Lebaran Ketupat akan dilaksanakan setelah Lebaran Idul Fitri berjalan 1 minggu kemudian.

Lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, saat itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari itu, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top