Sungkeman & Halal Bihalal

Sungkeman
Pada perayaan Idul Fitri dalam tradisi Jawa, tradisi halal bihalal dalam keluarga besar biasa dikenal dengan istilah “sungkeman”. Tradisi ini pada umumnya dilakukan di kalangan kerabat dekat saja. Inti dari acara sungkeman adalah saling meminta maaf antar kerabat. Sungkeman tidak hanya dilakukan dengan berjabat tangan. Ada sejumlah prosedur tertentu yang perlu dilakukan pada acara sungkeman ini.

Sungkem dilakukan secara terurut dari yang dituakan. Misal dalam keluarga besar ada Kakek, Nenek, Budhe (kakak dari ibu atau bapak), Paklik (adik dari ibu atau bapak), Anak Budhe, Anak Paman. Urutan sungkeman adalah, Budhe sungkem ke Kakek, lalu ke Nenek; Paman sungkem ke Kakek, lalu ke nenek, lalu ke Budhe. Anak Budhe sungkem ke Kakek, lalu ke nenek, lalu ke Budhe, lalu ke Paman dan hingga semua anggota keluarga besar sudah sungkeman.

Secara umum, Sungkem dilakukan oleh anak kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua (pinisepuh), demi menunjukkan tanda bakti dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai dewasa. Dalam konteks Idul Fitri, tradisi dilakukan saat prosesi saling memaafkan.

Halal Bihalal
Sejumlah sumber menyebut, halal bi halal sendiri pertama kali diperkenalkan oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Dimana saat itu terjadi konflik politik pada 1948 yang berakibat pada disintegrasi bangsa. Maka dipanggilah salah seorang ulama bernama KH. Wahab Chasbullah untuk memberikan masukkan. Saat itu Soekarno diberi saran untuk menggelar silaturahmi memakai tajuk halal bi halal dengan mengundang para elit politik ke Istana negara pada momen Idul Fitri.

Baca Juga  Tari Sambutan Kabupaten Muara Enim

Berawal dari situlah, akhirnya halal bi halal diselenggarakan. Pada acara tersebut, semua keluarga hadir, baik yang berada di kampung halaman, maupun mereka yang merantau berusaha untuk mudik agar bisa bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top