DITPSMP - Hari kedua kunjungan kerja di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali meninjau satuan pendidikan terdampak gempa di kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Utara.

Dalam proses rehabilitasi sekolah rusak berat, Mendikbud mengimbau agar dinas pendidikan setempat juga memerhatikan konsep zonasi persekolahan. Jika diperlukan, agar sekaligus menyiapkan unit sekolah baru di wilayah lain sesuai kebutuhan. 

"Sekolah ini 'kan siswanya cukup banyak. Tadi saya dengar ada siswa yang rumahnya cukup jauh dari sini. Nanti dilihat apa sebaiknya juga dibuat sekolah baru untuk mengakomodir siswa di wilayah itu. Ini sekaligus saja, karena harus diperbaiki total," ungkap Mendikbud Muhadjir Effendy, Selasa (14/8), di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Tanjung, Lombok Utara. 

Menurut data Sekretariat Nasional Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per tanggal 13 Agustus 2018, sebanyak 169 satuan pendidikan di Kabupaten Lombok Utara terdampak gempa. Tercatat sebanyak 1.117 ruang kelas dan 407 ruangan pendukung (laboratorium, ruang tata usaha, ruang guru, dan toilet) di sekolah mengalami kerusakan berat. Sedangkan 215 ruang kelas mengalami kerusakan kategori sedang dan ringan.

"Sembilan puluh persen sekolah di Lombok Utara rusak. Sejumlah 23.822 siswa SD dan 7.304 siswa SMP berada di pengungsian dan tidak bisa mengukuti proses belajar mengajar normal dalam waktu yang cukup lama. Semoga segera ada sekolah darurat untuk anak-anak kita," disampaikan Fauzan Fuad, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Utara.

Fauzan menyampaikan terima kasihnya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atas langkah responsif dalam penanganan pascagempa Lombok. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena posko pendidikan dapat digunakan menjadi kantor sementara. Di saat kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Utara rusak cukup parah.