Baru 2 Bulan Terjun di Story Telling Langsung Berprestasi

Nasional

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta - Devania Codino Sembiring mengaku baru 2 bulan terjun di Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling), namun lihatlah capaiannya di Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP Tingkat Nasional Tahun 2018. Devania berhasil menjadi Juara I OLSN Cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling).

“Saya baru masuk bidang ini 2 bulan yang lalu. Saya hari itu ditunjuk sama guru saya, dengan kelas VIII untuk menjadi story teller, akhirnya saya dipilih. Saya lebih bisa memasuki hati,” kata Devania Codino Sembiring mengenang awal mula dirinya terjun di story telling.

Meskipun belum lama berkiprah di story telling, namun sesungguhnya hobi dan semangat Devania telah cocok dengan bidang ini.

“Saya lebih suka bahasa Inggris bercerita, tapi lebih ke menulis. Tapi saya juga suka cerita di depan orang. Jadi kesannya berbagi,” ungkapnya setelah babak final OLSN di Ambhara Hotel, Senin (29/10/2018).

OLSN Cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling) memberi ruang pada “sentuhan baru” secara inovatif baik dalam penafsiran isi pesan, pengembangan alur cerita, ataupun teknik penyajiannya. Sebagai contoh, pendongeng atau story teller mampu mengubah susunan alur cerita, sudut pandang bercerita/gaya penceritaan, menambah detail cerita tanpa “merusak” inti cerita dan kreativitas lainnya. Hal tersebut membuat Devania semakin jatuh hati pada story telling dan membuat jiwa kreativitasnya membara.

Sebagai penampil terakhir di babak final dengan cerita Money Can’t Buy Everything, Devania mengisahkan bagaimana Nick berusaha menarik perhatian ayahnya dengan 3 cara. Ketiga cara tersebut disampaikan dengan nuansa humor. Cara pertama yakni Nick menjadi siswa berprestasi (hingga terampil di balet). Cara kedua, Nick menjadi siswa bandel di sekolahnya. Cara ketiga, Nick melakukan lari hingga 10 kali putaran, hingga dirinya terantuk di kepalanya.

“3 versi itu terpikir-pikir aja. Kalau saya itu bikin cerita paling hobi. Suka jadi agak gampang. Improvisasi di depan,” ujar siswi kelas VII SMP Global Andalan ini.

“Saya suka membuat cerita, kayak bikin fiksi. Cerita-cerita khayal gitu. Kayak yang di luar nalar. Makanya waktu dibilang bikin cerita, sudah enteng gitu,” imbuh wakil dari Provinsi Riau di ajang OLSN ini.

Pada ajang OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 di babak penyisihan, 34 peserta membawakan cerita lokal dan cerita internasional. Pada babak penyisihan, Devania membawakan cerita The Magic Ketobong dan The Three Little Pigs. Ia pun mengungkap lebih nyaman di babak final, dimana dirinya lebih bebas bereksplorasi.

“Saya jauh lebih suka yang di final. Saya lebih free. Yang di 2 cerita itu agak dikontrol oleh pembimbingnya, saya nggak bisa digituin. Kalau nggak ada pressure, kayak sendiri aja saya mikir beradaptasi, gampang,” tuturnya.

“Untuk 2 kisah di babak penyisihan, saya google sebelum lomba ini. Saya search cerita lokal-lokal yang populer, saya pelajari. Tahu-tahu di sini bisa bikin sendiri, jadi kayak lebih enak,” tambahnya.

Ada pun cerita Money Can’t Buy Everything yang dibawakan di fase final OLSN, dimaknai oleh Devania sebagai perlunya perhatian dari orang tua kepada anaknya.

“Sebaiknya anak itu lebih diperhatikan sama orang tua. Dia bisa ke jalan yang salah kalau tidak diperhatikan,” kata Devania.

Tampil Percaya Diri Kala Menjadi Story Teller

Devania Codino Sembiring mengaku belajar story telling dari menonton.

“Saya belajar story telling dengan nonton. Nonton animasi, YouTube, itu semua bahasa Inggris. Itu pun nggak ada subtitle. Biar saya nggak tegang. Subtitle bikin mata saya sakit. Saya denger-denger,” ujarnya.

Lalu bagaimanakah tips dari Devania kala menjadi sahibul hikayat? Percaya diri adalah kunci untuk membawakan cerita.

“Ketika tampil, percaya saja. Saya kan sudah masuk 10 besar, itu sudah hebat. Jadi nggak perlu-perlu kali tegang. Nggak perlu-perlu kali mikir juara I kayak mana. Yang penting sudah hebat, sudah wakili provinsi, masuk 10 besar, apalagi coba,” ucap Devania setelah babak final OLSN di Ambhara Hotel, Senin (29/10/2018).

“Masukan dari dewan jurinya bagus-bagus semua. Soalnya juri-jurinya sudah terdidik dalam bidang itu. Yang paling penting juga pede. Kalau nggak pede semua bakal nge-blank,” tambahnya.

Ajang OLSN sendiri tak sekadar kompetisi mencari siapa yang terbaik. Pada event ini terdapat misi merekatkan tali persatuan antara anak-anak dari berbagai provinsi di Indonesia. Nampaknya hal tersebut yang tepat dirasakan oleh Devania. Bagaimana dia bertemu dengan rekan-rekan segenerasinya yang memberikan apresiasi dan saling mendukung. Simaklah ketika babak final OLSN, kala para peserta saling menyemangati peserta lainnya.

“Jujur saya juga jadi agak tenang. Karena enak kawan di sini ramah-ramah, baik-baik, suka saya. Saya paling suka anak yang gaul gitu. Jadi kayak nggak tegang, nggak takut diejek, mereka ketawa karena saya melawak, impress,” ungkapnya.

Asa pun diutarakan Devania bahwa ajang OLSN semakin berkembang pada tahun-tahun mendatang.

“Terima kasih kepada OLSN karena OLSN memberi saya kesempatan untuk berada di peringkat 1. Semoga acara ini semakin bagus setiap tahunnya dan dapat memperlihatkan ragam kultur dari provinsi-provinsi di Indonesia,” tutur Devania usai Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang di Ambhara Hotel, Selasa (30/10/2018).

“Melalui OLSN, saya belajar untuk pede menghadapi orang lain. Saya dapat bercerita, spreading my stories ke seluruh dunia,” imbuh Devania Codino Sembiring peraih Juara I OLSN Cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling).