Buku Jendela Dunia, Membaca Adalah Kuncinya

Nasional

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta - Pada hari lomba (Senin, 29 Oktober 2018) para peserta OLSN  Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia menyaksikan tayangan video, diberikan tema, melakukan riset selama 1 jam, untuk kemudian menuliskan cerita pendeknya dengan jangka waktu 3 jam. Untuk perlombaan OLSN di tingkat nasional disuguhkan tayangan video bertema kerusakan lingkungan. Video itu berjudul “Apa yang Terjadi Jika Indonesia Turun Salju?”. Untuk kemudian 34 peserta dibagi dalam dua ruangan di SMPN 19 Jakarta dengan komputer masing-masing yang telah disediakan oleh pihak panitia. Para peserta diberikan waktu 1 jam untuk melakukan riset terkait tema tersebut. Para peserta untuk kemudian diberikan waktu 3 jam untuk menulis cerita pendek (dengan internet yang sudah dimatikan) serta panjang maksimal cerita pendek yaitu 8.000 karakter.

Bagaimanakah dinamika yang dialami Khairun Nisa jamilah di hari lomba tersebut?

“Deg-degan. Awalnya nggak tahu mau nulis apa, tapi dipaksa nulis aja. Alhamdulillah aja,” kata Khairun Nisa jamilah peraih gelar Juara II OLSN Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia.

Dalam cerita yang dibuatnya Nisa mengungkap relasi antara ibu dan anak.

“Konfliknya waktu turun salju, ibu tokoh utamanya kedinginan. Mereka itu orang jalanan. Tokoh utamanya berusaha cari tempat untuk ibunya, tidak ada yang mau menerima. Pas balik-balik sudah ketimbun salju,” jelas Nisa setelah Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang di Ambhara Hotel, Selasa (30/10/2018).

Sebagai informasi pada OLSN SMP 2018 terdapat 816 naskah Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia. Dari naskah tersebut diseleksi dewan juri, mereka yang lolos dapat mengikuti OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 yang diselenggarakan di Jakarta pada 27 s.d. 31 Oktober 2018. Khairun Nisa jamilah mengaku mengirim 2 naskah cerita pendek.

“Saya mengirim ada 2 naskah. Salah satunya tentang seorang anak bernama Chandra. Dia mengajak temannya untuk balapan. Dia kayak nggak peduli sekolah. Menurutnya sekolah cuma buat nambah angka di buku nilai. Cerita pendek tersebut tentang penyimpangan moral, tentang tokoh utama yang nggak sopan sama ibunya,” terang siswi kelas IX SMP IT Al Kahfi ini.

Banyak Program Literasi di Sekolahnya

Kegemaran terhadap literasi dapat tumbuh subur dikarenakan lingkungan yang peduli terhadap kemampuan abad 21 tersebut. Nisa mengaku di sekolahnya banyak program-program literasi yang menumbuhkan kecintaan terhadap aneka varian literasi.

“Kalau pelajaran lagi kosong, pergi ke perpustakaan, membaca. Ada beberapa kegiatan yang mengharuskan untuk pergi ke perpustakaan buat cari-cari bahan buat belajarnya. Banyak sih program-program literasi. Ada juga lomba tentang literasi seperti lomba pidato, membuat puisi,” ujar wakil dari Provinsi Jawa Barat di OLSN ini.

Perempuan berkaca mata ini mengaku bahwa dirinya gemar membaca novel, kumpulan cerita pendek. Nisa mengaku mendapatkan banyak ilmu dari membaca.

“Membaca penting banget. Dari membaca, kosa kata dapat, ilmu dapat, ide-ide juga gampang didapat dari baca. Dari membaca bisa menambah wawasan. Buku jendela dunia, membaca itu kuncinya. Membaca kayak melihat dunia luar kayak gimana. Bisa melihat, ngebayangin,” tutur penulis cerita pendek Tanda Tanya Bagi Pertiwi ini.

Aneka Varian Literasi

Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Dengan demikian literasi, tak sekadar membaca dan menulis. Khairun Nisa jamilah sendiri mengaku bahwa dirinya menyukai aneka varian literasi. Ia suka dengan cerita pendek, komik, pidato.

“Saya suka menggambar. Gambar komik, anime. Saya menggambar kalau lagi mood, bosan, sedih, marah. Saya juga suka melukis,” ungkap Nisa menjelaskan hobinya.

Ilmu Berharga dari Workshop

Para peserta Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) tak sekadar berlomba. Mereka pada Ahad (28/10/2018) mendapatkan pembekalan dari dewan juri dalam hal mengenal dan memahami penulisan fiksi cerpen, metodologi/andragogi (pelatihan apresiasi cerpen, visualisasi, tanya jawab proses kreatif, pelatihan menulis cerpen). Terlebih para dewan juri merupakan paduan dari praktisi sastra dan kalangan akademisi. Mereka yang memiliki wewenang ilmiah untuk menyingkap aksara.

“Dari workshop banyak banget ilmu yang didapatkan. Diantaranya ide itu dapat diambil tak hanya dari membaca, tapi juga dari visual, kita dengar apa, lewat teman ngobrol juga,” ujar Nisa yang bercita-cita menjadi penulis.

“Saya sendiri mendapatkan ide macam-macam sih. Dari visual pernah. Dari ngedenger pernah. Dengar lagu,” kata Khairun Nisa jamilah peraih gelar Juara II OLSN Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia.