Berlatih Story Telling Bersama Keluarga

Nasional

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta - Pada babak final OLSN Cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling) kesepuluh finalis membawakan cerita Money Can’t Buy Everything. Dengan bahan dasar yang sama, “sentuhan baru” secara inovatif baik dalam penafsiran isi pesan, pengembangan alur cerita, ataupun teknik penyajiannya. Sebagai contoh, pendongeng atau story teller mampu mengubah susunan alur cerita, sudut pandang bercerita/gaya penceritaan, menambah detail cerita tanpa “merusak” inti cerita dan kreativitas lainnya.

Hal itu dipahami betul oleh Irfan Rahadian Adriyanto. Irfan pun memulai kisahnya dengan tahapan terpilihnya cerita Money Can’t Buy Everything.

“Dari 10 finalis dibagi jadi 3 kelompok. Terus tiap kelompok memilih 1 cerita yang bakal dipilih. Terus kita bakal berdebat, sedikit berdebat, untuk menentukan cerita kelompok tersebut pantas digunakan dalam kompetisi ini,” kata Irfan setelah babak final OLSN di Ambhara Hotel, Senin (29/10/2018).

Irfan Rahadian Adriyanto tampil luwes dan percaya dirinya di fase final OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018. Irfan “menggoda” para juri dan penonton dengan pertanyaan masihkah mengingat dirinya. Siswa SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta ini menempatkan point of view pada ibu Nick. Wakil dari Kota Pelajar ini mengungkapkan bahwa Nick sesungguhnya membutuhkan perhatian dari ayahnya. Dengan cergas Irfan menggarisbawahi bahwa segala pemberian dari sang ayah bukanlah substansi dari cinta: It’s not love, it’s money. Melalui ibu Nick terungkaplah resolusi konflik dimana sang anak dan sang ayah akhirnya menemukan kembali arti keluarga.

Point of view saya sebagai ibunya. Kebetulan saya yang mendapat menang debat. Jadi kelompok saya dapat ceritanya, jadi saya sudah mengerti ceritanya seperti ini. Sebagian besar orang kan bakal berpikir oh point of view-nya sebagai anaknya, ayahnya. Kebetulan itu ceritanya sebenarnya nggak ada ibunya, tapi ini saya tambahkan karakter lagi agar lebih unik dan out of the box. Orang-orang juga akan berpikir wah ini berbeda dari yang lainnya,” terang Irfan.

Irfan pun memandang babak final memberikan tantangan tersendiri, dikarenakan para finalis harus mandiri 100% dalam membawakan ceritanya. Jika di babak penyisihan, kala 2 cerita yakni cerita lokal dan cerita internasional masih dapat dipersiapkan, dipoles oleh banyak orang. Irfan membawakan kisah The Story Of Roro Jonggrang dan The Story Of King Omar di fase penyisihan.

“Cerita 2 sebelumnya, kita cerita dari rumah, jadi bisa dimodifikasi, bisa dibantu ayah, bisa dibantu ibu, bisa dibantu siapa sajalah. Tapi kalau ini tadi kebetulan kita harus membuat ceritanya sendiri. Harus bikin story yang berbeda dari yang lain. Harus kita pikirkan sendiri tanpa bantuan orang tua, pembimbing,” jelas Irfan.

“Kebetulan saya mengutamakan kelucuan. Karena menurut saya story telling tujuan utamanya memikat dan menarik para penonton. Jadi saya mungkin kalau story telling biasa, orang akan berpikir ini biasa, tapi kalau saya menyelipkan beberapa komedi, lucu-lucu, mungkin orang-orang akan tertarik dan jadi lebih ingin mengikuti story-nya,” imbuhnya.

Latihan Story Telling Bersama Keluarga

Pendidikan tak sekadar tanggung jawab sekolah. Ada peran keluarga yang turut menyokong keberhasilan transfer ilmu dan Penguatan Pendidikan Karakter. Irfan Rahadian Adriyanto kerap berlatih story telling bersama keluarganya.

“Saya dulu sering ikut lomba story telling. Sudah tahu, paham, gimana cara berjalannya, cara geraknya, kostumnya berlebihan atau tidak, itu sudah tahu dan kebetulan pembimbing saya sudah terlatih, jadi lebih mudah untuk memahami,” terangnya.

“Saya hampir nggak pernah lihat di YouTube. Lebih ke latihan sama ibu atau ayah, keluarga. Keluarga dari English family yang bisa berbahasa Inggris secara fasih, jadi lebih nyaman, enak untuk mempelajari segala sesuatu tentang bahasa Inggris itu,” tambah Irfan.

Pengayaan bahasa Inggris di lingkup keluarganya disisipkan sebagai metode pembelajaran yang mengasyikkan.

“Biasanya sehari-hari. Mungkin kita selipkan beberapa kata bahasa Inggris yang mudah dipahami juga. Kadang-kadang ayah sering nyelipin bahasa Inggris yang kita belum ketahui, terus kita ‘itu maksudnya apa’, nanti bakal dijelasin. Jadi pengetahuannya lebih luas,” urai Irfan. Ayah dari Irfan merupakan dosen suatu kampus di Samarinda, sedangkan ibunya merupakan Pegawai Negeri Sipil.

Terbiasa Tampil di Depan Publik Sejak Kecil

Wakil dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di OLSN ini memang telah terbiasa tampil di depan publik sejak kecil. Ia juga telah terbiasa mengikuti berbagai lomba sejak dini.

“Kepercayaan diri saya telah terlatih sejak kecil. Dari kecil sudah disuruh maju ke depan. Sudah disuruh lebih percaya diri. Jadi saya terbawa sampai dewasa. Lebih gampang, sudah terbiasa dengan audience yang sebanyak ini dan sudah siap-siap juga, jadi lebih enak,” ujar Irfan.

“Pertama kali ikut speech, lomba pidato dalam bahasa Inggris. Pertama kali ikut dalam berbahasa Inggris, ngomong di depan orang-orang sekitar 3 tahun yang lalu. Alhamdulillah saya menang pada saat itu. Guru tahu oh bakatnya di sini, jadi dilatih,” imbuhnya.

Capaian kemenangan Irfan Rahadian Adriyanto pun bertambah lagi. Dia berhasil menjadi Juara Harapan II pada ajang Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) Cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling).

“Perasaan saya senang banget bisa berpartisipasi dalam kompetisi ini dan akhirnya bisa menang juga. Saya pasti akan terus berjuang karena ini baru cuma harapan kedua, saya pasti akan berjuang lebih keras lagi. Insya Allah bisa lebih baik lagi,” ujar Irfan setelah Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang OLSN-LME di Ambhara Hotel, Selasa (30/10/2018).