Ilmu Merasakan Alam Si Nenek Tua

Nasional

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta - Pada hari lomba (Senin, 29 Oktober 2018) para peserta OLSN Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia menyaksikan tayangan video berjudul “Apa yang Terjadi Jika Indonesia Turun Salju?”. Mereka diberikan waktu untuk melakukan riset, sebelum “menari bersama kata” selama 3 jam.

Ananda Hafizha Azhika N menuliskan cerpen berjudul Nenek Tua.

“Cerpen saya menceritakan tentang ada seorang anak laki-laki, dia sering berpikir kritis, rasional.  Dia tuh bertemu sama nenek tua, terus nenek tua itu mengatakan suhu di sini semakin rendah, akan terjadi salju. Terus yang laki-lakinya nggak percaya, nggak berapa lama salju beneran turun. Terus pemerintah akan meluncurkan bahan untuk menghilangkan salju di negara tersebut. Malah bahan yang untuk hilangin salju menyebabkan kekeringan. Terus akhirnya kekeringan melanda dimana-mana,” kata Ananda Hafizha Azhika N di SMPN 19 Jakarta, Senin (29/10/2018).

Menurut Ananda makna yang terkandung dalam cerpen karyanya yakni jangan meremehkan perkataan orang lain serta harus berpikir 2 kali sebelum bertindak. Jangan meremehkan perkataan orang lain tercermin dari penyikapan terhadap pendapat nenek tua.

“Nenek tua itu cuma penduduk sekitar, tetapi dia punya ilmu merasakan alam. Dia bisa merasakan akan turun salju karena pengalaman. Dan dia bisa sensitif banget dengan perubahan alam,” jelas siswi kelas IX SMPN 1 Wonosari ini.

Pada Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang OLSN-LME senyum Ananda terukir. Ia ditetapkan sebagai Juara III OLSN Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia.

Nggak terduga sih. Soalnya waktu awal-awal sudah putus asa nggak bisa menang. Karena lawan-lawannya kuat-kuat dan bahasanya, kosa katanya beragam, kaya,” ujar Ananda setelah Upacara Penutupan dan Pengumuman Pemenang OLSN-LME di Ambhara Hotel, Selasa (30/10/2018).

Inspirasi dari Tere Liye

Menulis tidak berakar dari ruang hampa. Melainkan perlu kiranya mencari referensi data serta memadukannya dengan imajinasi. Pun begitu yang dilakoni oleh Ananda kala merajut kata untuk cerpen Nenek Tua.

“Aku searching-searching dulu sebelum mulai. Sama aku pernah baca-baca buku tentang bagaimana di Indonesia salju. Aku baca referensi buku itu Hujan milik Tere Liye. Dari buku itu terjadi bencana alam dimana-mana akibat salju itu, kelaparan, kekurangan air, dan lain-lain,” urai wakil dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di OLSN ini.

Menulis Adalah Bekerja dalam Kesendirian

Tiap penulis memiliki “ritual” tersendiri dalam menulis. Bagi Ananda menulis adalah bekerja dalam kesendirian.

“Aku biasanya menulis di kamar aja nyari ketenangan. Pokoknya aku harus sendiri. Tidak ada waktu tertentu dalam menulis. Kalau ada ide ya udah aku langsung,” ungkap Ananda yang mengirim naskah cerpen berjudul Bintang Di Mata Rei kala tahap seleksi OLSN.

Maka dengan “ritual” tersebut, Ananda mengaku harus beradaptasi di hari lomba OLSN. Selain itu dirinya juga harus menanggulangi hal non teknis lainnya.

“Aku kalau nulis suka dengerin lagu. Tapi tadi tidak boleh searching. Ya udah. Sama ac-nya dingin banget. Aku alergi dingin. Jadi bersin-bersin gitu nggak fokus,” tutur Ananda Hafizha Azhika N di SMPN 19 Jakarta, Senin (29/10/2018).

Mengikuti OLSN bagi Ananda merupakan pengalaman yang sangat berharga. Ia pun berpesan kepada rekan-rekan segenerasinya agar jangan pernah bosan untuk membaca.

“Membaca itu memperkaya ilmu kita. Dan jangan pernah bosan untuk membaca. Karena buku adalah jendela dunia,” ucap Ananda Hafizha Azhika N peraih gelar Juara III OLSN Cabang Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia.