Penemuan, Inovasi, dan Lingkungan Jadi Tema IJSO 2018

INTERNASIONAL

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

Internasional – Pada penyelenggaraan The 15th International Junior Science Olympiad, 6 pelajar Indonesia serta 3 leaders mengusung panji Merah Putih di kompetisi sains internasional. Untuk peserta didik terdapat Tim Indonesia A yang terdiri dari Emilda Putri Aulia, Nathanael Tjandra, dan Mohammad Nabiel Shafa. Sedangkan Tim Indonesia B terdiri dari Edward Humianto, John Howard Wijaya, dan Arin Nahda Zhafira. Sedangkan para leaders yakni Budhy Kurniawan, Agustino Zulys, dan Ahmad Ridwan.

International Junior Science Olympiad (IJSO) merupakan ajang kompetisi prestisius yang berlangsung setiap tahun pada bulan Desember. The 15th International Junior Science Olympiad digelar di Botswana pada 2 s.d. 11 Desember 2018. Ada sekitar 240 peserta berusia 15 tahun dan lebih muda, yang berasal dari 42 negara mengikuti IJSO 2018. Ajang IJSO sendiri dilakukan untuk menguji pengetahuan dan keterampilan para peserta di bidang Fisika, Biologi dan Kimia.

The 15th International Junior Science Olympiad memperebutkan 24 medali emas, 51 medali perak, dan 86 medali perunggu.Tim Indonesia SMP berhasil memperoleh 5 medali perak dan 1 medali perunggu.

“Anak-anak sebenarnya secara nilai cukup baik. Mungkin karena soalnya relatif bisa mengerjakan sehingga untuk peringkat ke emasnya itu dekat sekali, sehingga kita tidak ada yang bisa masuk passing grade untuk emas. Tapi mereka semuanya peraknya, perak tinggi,” kata leader Budhy Kurniawan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (13/12/2018).

“Tingkat kesulitan soalnya relatif tidak terlalu susah, sehingga nilainya itu berdekatan. Sehingga yang dapat nilainya 86 itu banyak sekali. Sementara ketentuannya untuk mendapat emas itu 10% dari jumlah peserta. Jadi dipotong, diambil 24 terbaik,” tambah dosen di Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia ini.

Jika dikomparasikan dengan negara lainnya, pada ajang IJSO ke-15, Tim Indonesia berada di bawah Taiwan, India, Vietnam, Korea Selatan, Rusia, Arab Saudi yang berhasil mendapatkan medali emas.

Discovery, Innovation and Environment

Pada The 15th  International Junior Science Olympiad tema yang dipilih yakni ‘Discovery, Innovation and Environment’. Menurut Budhy, soal-soal pada IJSO ke-15 telah mencerminkan tema tersebut.

“Soal-soal sudah mencerminkan itu. Artinya seperti discovery soal yang memperlihatkan bagaimana suasana di Sungai Okavango karena itu ada gelembung-gelembung gas. Artinya dari situ siswa diminta menemukan sesuatu dengan adanya gelembung gas. Inovasinya bagaimana inovasi-inovasi bisa dilakukan dari kondisi seperti itu. Sehingga menjadi suatu soal, menjadi pengembangan ilmu. Lalu environment-nya banyak menggali kondisi lingkungan disana,” tutur Budhy Kurniawan.

Peserta IJSO melakoni tes multiple-choice questions, teori dan eksperimen. Di sanalah kemampuan pemahaman tentang sains diuji.

“Alhamdulillah kita sudah menyiapkan mereka untuk menghadapi berbagai macam kondisi. Dan ternyata memang benar di IJSO kemarin ini 3 mata pelajaran yang diujikan dalam praktikum. Biasanya cuma 2, ini tiga-tiganya. Pada soal eksperimen, kalau biologi berkaitan dengan menggunakan alat kromatografi; yang untuk kimianya, titrasi; yang untuk fisika, viskositas,” terang Budhy Kurniawan yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun menjadi leader di IJSO.

Terkait dengan diskusi dan penerjemahan soal yang dilakukan oleh para leaders, Budhy mengaku hal tersebut menjadi sesi yang alot.

“Karena soalnya relatif lebih mudah, maka diskusinya itu kita sampai hari kedua bahkan jam 6 pagi baru bisa nge-print. Padahal kita mulai dari jam 8 pagi,” jelasnya.

Pembelajaran Sains untuk Anak Usia SMP

Ada pun keenam peserta didik yang dikirim ke Botswana merupakan para peraih medali di Olimpiade Sains Nasional jenjang SMP Tahun 2018. Mereka merupakan sosok-sosok terpilih melalui pembinaan sistematis yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMP. Sebelum terjun ke IJSO 2018, seleksi dan pengayaan materi dilakukan melalui training center (TC) 1 yang berlangsung selama 2 minggu, training center 2 selama 1 bulan, dan training center 3 dalam durasi 1,5 bulan.

“TC 1 kita lebih prioritas kepada materi-materi utama; kemudian TC kedua melengkapi semua silabus; TC ketiga kita drill soal, strategi mengerjakan soal, sama penyiapan mental anak-anak,” ujar Budhy Kurniawan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan saran konstruktif mengenai pembelajaran sains untuk anak usia SMP.

 “Sebaiknya menggunakan proses pembelajaran yang sesuai dengan keadaan. Anak-anak tidak diajarkan untuk menghafal, tetapi mereka melihat realita yang ada. Diajak berpikir, sehingga mereka benar-benar menggunakan nalar,” tutup leader Tim Indonesia SMP pada IJSO 2018, Budhy Kurniawan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (13/12/2018).