Ayahku Pelatihku

INTERNASIONAL

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

Internasional – Untuk mengembangkan potensi siswa di bidang olahraga memerlukan aliansi strategis tri pusat pendidikan (sekolah, keluarga, masyarakat). Hal itu terlihat benderang pada Lala Diah Pitaloka sang peraih medali emas Kata Female U14 pada The 3rd Open International De Karate De La Province De Liege di Herstal, Belgia. Dari pihak sekolah dan keluarga memfasilitasi mimpi Lala untuk menjadi juara dunia di cabang olahraga karate.

Alhamdulillah pihak sekolah, dinas pendidikan kabupaten Majalengka sangat mendukung untuk kegiatan Lala. Banyak kemudahan yang diberikan oleh dinas, sekolah dengan memberikan dispensasi. Kalau pun ada pelajaran yang tertinggal karena mengikuti kegiatan, Lala diberikan kesempatan mengikuti ulangan susulan ataupun materi-materi tambahan,” kata ayah Lala, Idi Sayidiman di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (21/11/2018).

Tak sekadar SMPN 1 Palasah yang terletak di kabupaten Majalengka, Jawa Barat yang menyokong bakat dan minat Lala, pihak orang tua pun memperhatikan segala aspek yang mendukung optimalnya performa atlet.

“Kita berbicara tentang targetnya atlet sudah pasti banyak hal-hal yang perlu diperhatikan seperti nutrisi, disiplin, pola makan, pola latihan, semuanya itu harus dengan disiplin yang tinggi. Terkadang masa bermain dia selaku anak-anak memang ada waktu yang tersita juga. Jadi nggak seperti anak-anak pada umumnya,” tutur Idi Sayidiman yang berprofesi sebagai wiraswasta.

“Kita juga sebagai pelatih fisik Lala. Alhamdulillah kita tangani sendiri. kalau di daerah jarang sekali pelatih-pelatih sekaliber di kota-kota besar. Mau nggak mau kita belajar sendiri atau otodidak untuk mendukung cita-cita Lala,” tambahnya.

Dengan bekal pengalaman sebagai mantan atlet sepak bola serta belajar otodidak, Idi Sayidiman menggembleng Lala merengkuh mimpinya.

“Kita menggunakan metode Cooper. Di situ kita bisa mengukur daya tahan, VO2 max, level-level anak sudah sampai mana. Ada metode latihan fisik yang alhamdulillah selama ini diterapkan ke beberapa atlet kabupaten Majalengka mampu bersaing dengan atlet-atlet nasional,” ungkap Idi.

“Belajar otodidaknya, pertama dari pengalaman saya sebagai atlet sepak bola. Semua metode olahraga pada dasarnya sama, hanya cabornya yang berbeda. Di situ ada klasifikasi umur. Kalau umurnya usia dini, volumenya sekian, di situ ada tabel, tabel Cooper juga yang bisa diterapkan untuk pelatihan-pelatihan fisik,” imbuhnya.

Idi Sayidiman juga memberikan semangat kepada para orang tua yang anaknya berkecimpung di karate. Menurutnya dengan peraturan pertandingan yang ada dapat meminimalisir terjadinya cedera.

Alhamdulillah Lala tidak pernah cedera serius. Paling hanya cedera-cedera ringan seperti tertarik. Kita tidak begitu waswas karena kategori tarung/kumite itu ada aturan-aturan yang melindungi atlet yang bersangkutan,” pungkas Idi Sayidiman.