1 Akar Cerita, Kreativitas Bermekaran di Babak Final Story Telling OLSN SMP 2018

FLS

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta – Pada Senin sore (29/10/2018) Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling) memasuki babak final. 10 finalis di fase itu adalah Nur Fauziyah Sofiatunnisa Tjaja (DKI Jakarta), Irfan Rahadian Adriyanto (D.I.Yogyakarta), Radina Dyandra Nabila (Kepulauan Riau), Carmella Eliza Randungan Samagat (Kalimantan Barat), Geodipa Afatha Ryu Muhammad Fjz (Jawa Barat), I Gusti Ayu Ardhira Iswa Adi (Bali), Noel Fide Pamadiken (Banten), Hilyatil Adzkia (Kalimantan Selatan), Zakiyah Azzahra (Sumatera Barat), Devania Codino Sembiring (Riau). Di babak final, 10 finalis membawakan cerita Money Can’t Buy Everything dengan kreativitas masing-masing. Dengan bahan dasar cerita tersebut, para peserta menampilkan kreativitas, inovasi dengan cara yang berbeda.

Seperti diungkap oleh dewan juri bahwa cerita dengan “sentuhan baru” secara inovatif baik dalam penafsiran isi pesan, pengembangan alur cerita, ataupun teknik penyajiannya. Sebagai contoh, pendongeng atau story teller mampu mengubah susunan alur cerita, sudut pandang bercerita/gaya penceritaan, menambah detail cerita tanpa “merusak” inti cerita dan kreativitas lainnya.

Story telling lebih menekankan kekuatan kata (power of words), ketercapaian pesan dan interaksi dengan penonton. Lalu bagaimanakah bentuk kreativitas para finalis? Di babak final, sekalipun 10 finalis berjuang menempati spot Juara I, II, III, Harapan I, II, III; namun nuansa persahabatan dan saling mendukung begitu terasa. Hal itu terlihat dari sesama finalis yang saling menguatkan dalam kata dan gesture.

Sebagai peserta urutan pertama yang tampil yakni Nur Fauziyah Sofiatunnisa Tjaja. Seperti biasa sosok yang akrab dipanggil Fia itu mengambil nafas dalam-dalam terlebih dahulu. Fia pun memperkenalkan judul ceritanya yakni Money Can’t Buy Everything. Multisuara ditampilkan oleh siswi SMPN 75 Jakarta ini untuk menghidupkan karakter Pico, Genta dan ayah Genta. Siswi berkacamata ini diantaranya mencoba memasukkan unsur humor dengan bunyi klakson bus sekolah yang menjemput Pico mengeluarkan suara telolet.

Tampil berikutnya yakni Irfan Rahadian Adriyanto. Dengan luwes dan percaya dirinya Irfan “menggoda” para juri dan penonton dengan pertanyaan masihkah mengingat dirinya. Siswa SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta ini menempatkan point of view pada ibu Nick. Wakil dari Kota Pelajar ini mengungkapkan bahwa Nick sesungguhnya membutuhkan perhatian dari ayahnya. Dengan cerkas Irfan menggarisbawahi bahwa segala pemberian dari sang ayah bukanlah substansi dari cinta: It’s not love, it’s money. Melalui ibu Nick terungkaplah resolusi konflik dimana sang anak dan sang ayah akhirnya menemukan kembali arti keluarga.

Tampil kemudian Radina Dyandra Nabila. Siswi SMPN 6 Batam ini menghadirkan point of view dari sisi ayah Nick. Dikisahkan bahwa ayah Nick harus bekerja membanting tulang setiap harinya agar terhindar dari kemiskinan. Ia pun mewartakan sang ayah merupakan orang tua tunggal, dikarenakan perceraian antara ayah Nick dan ibu Nick.

Lalu penampil berikutnya yakni Carmella Eliza Randungan Samagat. Dikisahkan sang anak bernama Pete berasal dari keluarga yang sangat kaya. Dinarasikan bahwa ibu dari Pete menderita kanker stadium 3. Akhirnya sang ayah sadar kurangnya quality time yang dihabiskan bersama keluarga. Sang ayah pun berubah secara sikap. Sang ayah diantaranya memasakkan sarapan, waktu berkualitas pun dicurahkan kepada keluarga intinya. Keajaiban pun datang, ibu dari Pete dapat pulih dari penyakitnya. Dan ikatan keluarga pun semakin terkuatkan.

Tampil berikutnya yakni Geodipa Afatha Ryu Muhammad Fjz. Pelajar SMP IT Immul Quro ini mampu menampilkan humor yang menggelitik. Ia mampu menirukan suara dan gesture bak Minnion. Geodipa pun menggugah partisipasi para penonton dengan mengajak mereka menghitung “uangnya” sebesar $16.

Lalu ada I Gusti Ayu Ardhira Iswa Adi yang mengisahkan bagaimana Nick yang berusia 10 tahun begitu kesepian. Tampil berikutnya yakni Noel Fide Pamadiken. Siswa SMP Katolik Santa Laurensia ini mengibaratkan betapa ayah Nick tak dapat menjadi seorang pahlawan kala anaknya mengalami mimpi buruk. Nick yang membutuhkan perhatian pun terbit ide bahwa dirinya harus menjual sesuatu agar mendapatkan kesempatan bertemu dengan ayahnya. Lalu ada pesan intrinsik bahwa ayah Nick yang “menertawakan” Nick dengan usahanya menjual lemon. Sang ayah pun mengatakan bahwa untuk sukses dibutuhkan creativity, hard work, dan passion.

Sebagai penampil berikutnya Hilyatil Adzkia. Siswi SMPN 1 Martapura ini mengawali ceritanya dengan bernyanyi. Berbagai humor diucapkan oleh Adzkia. Diantaranya mengenai tulang yang dapat bermain musik (jawabannya: drum bone) ataupun es krim yang berbunyi telolet.

Sebagai penampil kesembilan yaitu Zakiyah Azzahra. Dikisahkan bahwa Nick yang berusaha mencari perhatian ayahnya membuat masalah di sekolah. Pihak sekolah pun menelepon ayahnya agar datang. Namun ditunggu-tunggu, sang ayah tak datang di sekolah dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya.

Sebagai penampil terakhir di babak final yaitu Devania Codino Sembiring. Pelajar SMP Global Andalan ini mengisahkan bagaimana Nick berusaha menarik perhatian ayahnya dengan 3 cara. Ketiga cara tersebut disampaikan dengan nuansa humor. Cara pertama yakni Nick menjadi siswa berprestasi (hingga terampil di balet). Cara kedua, Nick menjadi siswa bandel di sekolahnya. Cara ketiga, Nick melakukan lari hingga 10 kali putaran, hingga dirinya terantuk di kepalanya.

Maka berakhirlah kesepuluh penampil di babak final ini. Para juri pun memuji para finalis. Juri Siti Wachidah mengungkap bahwa esensi, soul of story mampu ditunjukkan para finalis dalam kreativitas bercerita dalam bahasa Inggris. Dosen di Universitas Negeri Jakarta ini berharap dengan era digital ini, para story teller muda ini dapat menyampaikan kisah-kisah Indonesia ke kancah internasional. Siti Wachidah pun mengungkap bahwa berdasarkan pernyataan UNESCO Indonesia adalah negara super power dalam bidang kebudayaan.