Pentingnya Riset dalam Literasi

FLS

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta – Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad 21. Bersama dengan kompetensi dan karakter, ketiga hal tersebut akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat.

Masyarakat global dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan/kekinian. Hal ini tercantum dalam Deklarasi Praha (UNESCO, 2003) yang mencanangkan pentingnya literasi informasi (information literacy), yaitu kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi secara kritis, dan mengelola informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat untuk pengembangan kehidupan pribadi dan sosialnya.

Pada ajang Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP Tingkat Nasional ke-II makna literasi informasi semakin “bertenaga” diterapkan. Simaklah dalam OLSN cabang Lomba Cipta Cerpen, para peserta diberikan tema kerusakan lingkungan melalui video berjudul “Apa yang Terjadi Jika Indonesia Turun Salju?” Para peserta diberikan kesempatan selama 1 jam untuk melakukan riset melalui internet di laboratorium komputer SMPN 19 Jakarta.

Simak pula OLSN cabang Lomba Debat Bahasa Indonesia, begitu diketahui posisi afirmasi atau negasi serta diberikan tema tertentu, para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan riset dengan laptop yang telah disediakan.

Simak juga OLSN cabang Lomba Cipta Puisi yang berlangsung di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Setelah diberi tema humanisme, para peserta diberikan waktu untuk menelusuri data yang bertebaran di perpustakaan tersebut.

Simak juga bagaimana riset melekat pada OLSN cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling).

Story telling itu kan internasional dan tidak bisa mengandalkan resource dalam negeri sebagai model.  Dan juga harapannya bisa menjual story yang ada di Indonesia ke luar. Menurut saya peran digital sangat penting. Dari materi maupun memodel/mengikuti. Untuk riset materinya bisa unlimitted ke seluruh bangsa, budaya, around the world. Kita Bahasa Inggris datangnya cerita kan bukan hanya dari Inggris, Amerika Serikat, tapi dari negara-negara di seluruh dunia,” kata juri OLSN SMP  cabang Lomba Kreativitas Bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling) Siti Wachidah di Ambhara Hotel, Ahad (28/10/2018).

“Selain tahu ceritanya, saya jadi mengerti kebudayaannya. Kayak di Kepulauan Hawaii ada kepercayaan terhadap dewa-dewa. Saya tahu orang Hawaii ini banyak yang memakai spell tertentu. Cara pengucapannya seperti yang tadi saya bawain,” ujar Nur Fauziyah Sofiatunnisa Tjaja yang membawakan cerita Maui and the Giant Fish.

Riset pun bermanfaat dalam lini literasi menulis cerita pendek.

“Seperti Pramoedya Ananta Toer sebelum mulai menulis, risetnya dilakukan dengan sangat detail dan sehingga karyanya tidak mengawang. Memang menjejak pada realitas yang ada dan ini sebenarnya satu bentuk gimana budaya literasi itu juga ada di dalam keterampilan menulis. Jadi mereka tidak hanya mahir menulis, tapi memang memiliki wawasan yang kemudian itu bisa menjadi bahan dari penulisan itu sendiri. Antara menulis dan membaca menjadi satu kesatuan yang merupakan bagian dari budaya literasi,” tutur juri OLSN cabang Lomba Cipta Cerpen Muhammad Adji di SMPN 19 Jakarta, Senin (29/10/2018).