Literasi Menentukan Peradaban Sebuah Bangsa

FLS

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta – Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ditujukan bagi pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan merujuk pada higher order thinking skills (HOTS), kompetensi abad 21 (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter.

Lantas bagaimanakah kiranya sejarah Gerakan Literasi Sekolah (GLS)? Hikayat singkat GLS diungkap oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud) Hamid Muhammad saat pembukaan Festival Literasi Sekolah.

“Literasi sekolah ini pertama kali digagas tahun 2015, setelah diskusi panjang, baru Maret 2016 kalau tidak keliru baru kita luncurkan, termasuk sosialisasi dan publikasi terutama untuk anak-anak sekolah, dinas pendidikan,” kata Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad saat memberikan sambutan dan arahan pada Pembukaan Festival Literasi Sekolah di di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Ahad (28/10/2018).

Kebijakan terkait literasi yang dilakukan Kemendikbud sesungguhnya telah dilakukan sejak jauhari.

“Kenapa GLS kita munculkan? Literasi sebagaimana kita tahu bukanlah hal yang baru. Yang sudah ada di sekolah, tapi harus kita perkuat. Kita harus fokus kembali ke masalah literasi. Sebenarnya sejak di 2006 di Dirjen PLS kita sudah mulai dengan Gerakan Keaksaraan,” ucap Hamid Muhammad.

“Karena tahun 2003 UNESCO itu mengumumkan bahwa masalah literasi yang kemudian diartikan keaksaraan di dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dan pada waktu itu UNESCO mengeluarkan semacam guide line tentang literasi baik untuk sekolah, keluarga, masyarakat,” tambahnya.

Beranjangsana ke tarikh masa lalu, maka literasi merupakan hal yang terus menjadi perhatian.

“Tetapi 2006 kita fokus pada literasi orang dewasa dalam hal baca-tulis bagi masyarakat yang masih belum bisa baca-tulis. Tetapi pada akhirnya tahun 2015 ketika World Economic Forum di Dubai kalau tidak keliru, menyimpulkan bahwa anak-anak kita itu akan hidup di masa depan kalau dibekali dengan 3 hal. 1. Masalah pendidikan karakter, 2. Literasi, 3. Keterampilan abad 21. Itu dikemas dalam bentuk 4C (Creativity, Critical Thinking, Collaboration, Communication),” beber Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad.

Menjadikan Literasi sebagai Mainstream

Dengan demikian maka tinggi rendahnya kualitas suatu bangsa dapat dilacak dari kemampuan literasinya. Oleh karena itu Kemendikbud terus berusaha meningkatkan kemampuan literasi para peserta didik.

“Kenapa dunia sekarang fokus betul pada literasi? Literasi inilah yang akan menentukan peradaban sebuah bangsa. Semakin tinggi tingkat literasi sebuah bangsa maka bangsa itu juga akan semakin tinggi. Dan inilah kenapa kita melakukan berbagai hal terkait literasi. Dan kita tahu tingkat literasi anak-anak kita di Indonesia, bukan hanya anak-anak tapi masyarakat juga masih jauh dari yang kita harapkan,” ujar Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad.

“Oleh karena itu Kemdikbud melakukan segala upaya untuk bagaimana literasi ini bisa menjadi mainstream, bisa menjangkau kepada semuanya,” imbuhnya.

Langkah-langkah untuk menjadikan literasi sebagai mainstream pun telah ditempuh oleh Kemendikbud.

“Mulai dari Ditjen PAUD Dikmas, selain program keaksaraan, tahun 2016 atau sebelumnya itu ada Gerakan Indonesia Membaca. Terima kasih kepada Ditjen PAUD Dikmas yang telah mengawalinya. Kemudian disusul oleh GLS yang dimulai di sekolah-sekolah kita dengan tataran 45 juta siswa, 219.000 sekolah seluruh Indonesia,” ungkap Hamid Muhammad.

“Kemudian ada Gerakan Literasi Kebangsaan yang digagas oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Yang ini semuanya dikoordinasikan dalam Gerakan Literasi Nasional. Inilah upaya yang harus kita kawal bagaimana literasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita,” tambahnya.

Penyelenggaraan Gerakan Literasi Sekolah Sendiri tak berdiri sendiri, melainkan berada dalam narasi besar Penumbuhan Budi Pekerti.

“Ditjen Dikdasmen tahun 2016 memulai Gerakan Literasi Sekolah dan itu memang dipicu oleh Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Literasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Karena melalui literasi kita bisa menumbuhkan budi pekerti dan karakter anak-anak kita,” ungkap Dirjen Dikdasmen Kemdikbud Hamid Muhammad.

Gerakan Literasi Sekolah pun telah inheren dengan Kurikulum 2013.

Alhamdulillah sekolah-sekolah kita mulai menggeliat. Bangkit dari ketertiduran selama ini.

Mulai bangkit untuk menggerakkan siswa-siswa, guru-guru untuk melakukan gerakan literasi. Kita mulai dengan pembiasaan membaca 15 menit sebelum masuk kelas setiap pagi. Di beberapa

sekolah dikembangkan dengan beberapa kegiatan lainnya,” kata Hamid Muhammad.

“Tahun 2016 kita coba integrasikan materi literasi dalam pelatihan kurikulum kita. Dan alhamdulillah ketika diintegrasikan dalam pelatihan kurikulum maka diharapkan semua sekolah yang melaksanakan kurikulum. Diharapkan literasi menjadi mainstream dan fondasi dari kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah,” tambah pria berkacamata ini.

Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah

Target Gerakan Literasi Sekolah yang mencapai 45 juta siswa dan 219.000 sekolah tentu membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan kolaborasi berupa kebijakan publik yang diimplementasikan oleh pemerintah daerah.

“Memang tantangannya ada. Menjangkau 45 juta siswa, 219.000 sekolah itu tidak gampang. Kita punya sekolah-sekolah di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Dimana terhadap bacaan dan sumber informasi sangat kurang. Ini memang pekerjaan kita ke depan, bagaimana setiap sekolah melakukan kegiatan literasi dengan sebaik-baiknya,” jelas Hamid Muhammad.

“Kami Dikdasmen merupakan unit utama mendorong agar pemerintah daerah baik kabupaten/kota atau provinsi melakukan segala upaya untuk memeratakan kegiatan literasi di semua satuan pendidikan. Kita bersama sudah melakukan. Ada beberapa unit daerah yang sudah punya peraturan daerah tentang kegiatan literasi dan kami harapkan akan muncul peraturan daerah yang akan memayungi semua kegiatan literasi sekolah di sekolah-sekolah kita. Dengan upaya itu maka tidak ada satu pun sekolah yang kegiatannya tidak menggunakan aktivitas berbasis literasi,” imbuhnya.

Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad pun memuji semangat literasi yang terus bermekaran di lingkup sekolah dan peserta didik.

“Kami sudah melihat di beberapa sekolah. Banyak kelas-kelas kita yang kaya literasi. Anak-anak sudah bangkit belajar dengan bergairah. Karena cara pembelajarannya sudah disesuaikan dengan aktivitas yangg berbasis literasi. Mudah-mudahan ini terus berkembang ke semua sekolah,” ucapnya.

Jadikan Literasi sebagai Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Menutup sambutannya Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad berharap agar gebyar Festival Literasi Sekolah tak berhenti sampai di sini. Ia berharap literasi akan menyatu dalam aktivitas generasi emas Indonesia.

“Saya harapkan kepada semua anak-anakku mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, dan PKLK, acara literasi ini jangan hanya berujung di festival ini. Kami harapkan semua anak-anak harus terus melakukan hal yang terbaik. Melakukan sosialisasi, mengajak semua teman-temannya. Harus selalu membaca, menulis, dan melakukan hal-hal yang terkait dengan literasi,” urai Hamid.

“Mudah-mudahan dengan festival dan lomba saya harapkan anak-anakku semuanya bisa menampilkan yang terbaik. Tetapi yang terpenting jadikan kegiatan membaca, kegiatan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Hamid Muhammad menutup pesannya dengan kalimat bernas terkait membaca, menulis, dan hal yang sedang menjadi sorotan pada zaman now: hoaks.

“Kita tahu slogan lama yang masih cukup kita ingat: ‘Dengan membaca, kita menggenggam dunia. Dengan menulis, maka dunia akan mengingat kita selama-lamanya. Dengan membaca dan menulis kita akan menjadi orang-orang yang kreatif, dan tidak akan terpengaruh dengan berita-berita bohong atau hoaks’. Dan inilah yang harus kita upayakan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Selamat mengikuti festival. Selamat mengikuti lomba,” kata Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad saat memberikan sambutan dan arahan pada Pembukaan Festival Literasi Sekolah di di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Ahad (28/10/2018).