Seberapa Greget Kreativitasmu dalam Story Telling?

FLS

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta – Kreativitas cerita dalam bahasa Inggris (Story Telling) diharapkan mampu menjadikan generasi muda khususnya para remaja memiliki keinginan untuk menggali nilai-nilai positif dan mengurangi nilai-nilai negatif dari suatu cerita yang mereka baca dan tampilkan. Oleh karena itu, dengan story telling peserta dan penonton akan belajar tentang kearifan, karakter dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh keluarga, masyarakat, dan negara sendiri tetapi juga di tingkat regional dan internasional.

Bentuk cerita mencakup cerita rakyat (folklore), mitologi (myth), legenda (legend), dan fabel (fable) dengan “sentuhan baru” secara inovatif baik dalam penafsiran isi pesan, pengembangan alur cerita, ataupun teknik penyajiannya. Sebagai contoh, pendongeng atau story teller mampu mengubah susunan alur cerita, sudut pandang bercerita/gaya penceritaan, menambah detail cerita tanpa “merusak” inti cerita dan kreativitas lainnya.

Demikianlah rangkaian narasi yang diungkap dalam Petunjuk Pelaksanaan Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP Tahun 2018. Lantas bagaimanakah para partisipan OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 menanggapinya? Makna greget kreativitas diantaranya dimaknai oleh guru pembimbing Ester Dwi Aryanti.

“Dengan membaca cerita, ada pesan moral itu apa bisa diambil oleh anak-anak remaja. Meskipun saya lihat cerita-cerita di Indonesia, namanya cerita ada yang nonsense. Bagusnya ada kreativitasnya. Bisa mengolah cerita tersebut lebih diterima. Kalau ada nonsense-nya, kata anak zaman now ‘masa begitu sih’, ‘ah itu bohong’,” kata Ester saat sesi registrasi peserta di Ambhara Hotel, Sabtu (27/10/2018).

“Kreativitasnya anak tidak menyampaikan cerita yang sama. Malin Kundang tidak selalu dia yang kena karma, boleh jadi istrinya yang kena karma. Malin kundang berbakti kepada ibunya, kemudian istrinya tidak patuh kepada suaminya. Itu kan kreativitas yang tidak semua berpikir ke arah situ,” ungkap Ester Dwi Aryanti guru ekstrakurikuler Bahasa Inggris di SMP Islam Al Azhar 21 Sukoharjo.

Menurut sosok yang telah mengantarkan anak asuhnya lolos ke Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP Tingkat Nasional Tahun 2015 dan 2016 di cabang story telling, lomba ini selain mengasah kreativitas siswa juga menggelorakan semangat membaca bagi pelajar. Sebagai informasi pada tahun-tahun sebelumnya cabang lomba story telling dikompetisikan di FLS2N. Barulah mulai tahun 2017 cabang lomba story telling dikompetisikan di Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN).

“Pentingnya story telling untuk budaya membaca. Anak-anak sekarang lebih suka mendengar, melihat lewat video, tapi kalau untuk membaca, mereka agak sedikit malas. Membaca dalam artian di buku. Medsos dalam artian mereka menganggapnya membaca. Walaupun story telling naskah-naskah sudah bisa diunduh,” urai Ester.