Gerakan Literasi Sekolah Membuatnya Jatuh Hati Pada Puisi

FLS

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

OLSN, Jakarta - Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti salah satu poinnya menyatakan perlunya sekolah menyisihkan waktu 15 menit secara berkala untuk pembiasaan membaca sebelum jam pelajaran dimulai. Pembiasaan ini dilakukan sebagai salah satu upaya menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Buah dari Gerakan Literasi Sekolah dirasakan oleh Catur Sataprana Reyhan Fajar Mahendra Putra peserta Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) cabang Lomba Cipta Puisi.

“Kita masuk sekolah jam 7. Sebelum masuk kelas, ada literasi 15 menit. Kita bisa baca buku walaupun di luar jam pelajaran. 15 menit waktu pertama kita bisa membaca buku, membuat rangkuman. Biasanya saya baca buku tentang cerita-cerita rakyat,” kata Catur saat sesi registrasi OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 di Ambhara Hotel, Sabtu (27/10/2018).

“Saya juga sering ke perpustakaan sekolah kalau jam istirahat,” ujar Catur yang bersekolah dari jam 7.00-15.15 di SMPN 1 Kabupaten Sorong.

Kerap berinteraksi dengan buku membawa Catur jatuh hati pada puisi.

“Tadinya nggak suka puisi, begitu ada Gerakan Literasi Sekolah, saya membaca puisi, maka saya menyukai puisi. Literasi bermakna bagi para siswa,” terang sosok yang mengagumi penyair Chairil Anwar.

Akhirnya melalui ranah literasilah dirinya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Kota Jakarta untuk mengikuti ajang OLSN SMP ke-II ini.

“Saya senang bisa ke Jakarta. Bisa membanggakan orang tua, membawa nama baik sekolah. Ini pertama kali dalam hidup saya keluar daerah karena menulis,” ungkap wakil dari provinsi Papua Barat ini.

Di ajang OLSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 inilah dirinya akan mendapatkan makna dari kebhinnekaan secara lebih mendalam dikarenakan dirinya akan bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan tema yang disukai oleh Catur yakni: Bhinneka Tunggal Ika.

“Saya mengirimkan puisi Wayang Sakti Indonesia yang membawa saya ke Jakarta. Wayang memang identik dengan Jawa, sedangkan saya ada di Papua Barat. Tapi makna dari puisi saya wayang mengelilingi dan menjelajahi Indonesia. Indonesia beragam, seperti sukunya, agamanya. Di situ terlihat kebhinnekaannya, berbeda-beda tapi tetap satu,” ucap Catur Sataprana Reyhan Fajar Mahendra Putra.