Pesona Budaya di Upacara Penutupan O2SN 2018

O2SN

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

O2SN, Yogyakarta – Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata ‘Yogyakarta’? Gudeg, bakpia, Sheila On 7, keraton, Malioboro, kota seni dan budaya, kota pendidikan? Mungkin saja deretan kata tersebut menjadi top of mind jawaban. Yang jelas pada Upacara Penutupan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2018 paduan antara seni, budaya, pendidikan bersenyawa dengan indahnya.

“Kita akan mengakhiri O2SN tahun 2018 yang dilaksanakan selama seminggu di Yogyakarta ini dan saya yakin kepada adik-adik semuanya para peserta bisa melihat apa yang kalian alami di Yogyakarta ini, kota yang penuh seni, penuh budaya, dan juga dikenal sebagai provinsi pendidikan,” puji Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad pada Upacara Penutupan O2SN 2018 di GOR Among Rogo, Jumat malam (21/9/2018).

Upacara Penutupan O2SN ke-XI secara resmi dimulai saat Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad beserta rombongan, Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X datang ke GOR Among Rogo. Nuansa seni, budaya, dan pendidikan pun disuguhkan melalui penampilan paduan suara dari SD Muhammadiyah Sokonandi Yogyakarta. Setelah merampungkan lagu daerah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam 3 stanza, lalu disambung dengan lagu Tanah Tumpah Darahku. Rasa nasionalisme pun membuncah seusai sesi tersebut.

Acara lalu dilanjutkan dengan pembacaan doa. Kemudian disambung dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DI Yogyakarta Kadarmanta Baskara Aji.

“Peserta O2SN adalah siswa, siswi terbaik jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK serta PKLK baik negeri maupun swasta dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Keseluruhan peserta berjumlah 1.938 siswa. Tingkat SD sebanyak 408 siswa, SMP sebanyak 340 siswa, SMA sebanyak 544 siswa, SMK sebanyak 340 siswa, SLB sebanyak 306 siswa. Ditambah dengan pendamping, pembina, wasit dan panitia, jumlah keseluruhan partisipan O2SN tahun 2018 sebanyak 4.423 partisipan,” kata Kadarmanta Baskara Aji pada Upacara Penutupan O2SN 2018 di GOR Among Rogo, Jumat malam (21/9/2018).

Untuk menjalin tali kasih dan persahabatan, maka sesi selanjutnya yakni penyerahan cenderamata dari Disdikpora DIY kepada perwakilan Disdikpora dari 33 provinsi lainnya. Cenderamata berupa ikon Tugu Yogyakarta dalam bentuk mini sebagai perlambang penyambung tali kasih. Tenun kebangsaan, persatuan dan berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia pun terasa kuat dengan pesan tersebut.

Video kilas balik O2SN 2018 pun mengisi sesi selanjutnya. Peluh perjuangan, gimmick lucu terangkum dari video kilas balik yang memperlihatkan para partisipan O2SN 2018. Acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud) Hamid Muhammad.

“Kami atas nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya khususnya kepada Bapak Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah memfasilitasi penyelenggaraan O2SN 2018 ini dengan baik. Dan juga kepada semua kepala dinas yang telah mengkoordinasikan kegiatan ini, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, sampai tingkat provinsi, sampai mengirimkan anak-anak kita ke Yogyakarta ini,” ujar Hamid Muhammad pada Upacara Penutupan O2SN 2018 di GOR Among Rogo, Jumat malam (21/9/2018).

“O2SN ini merupakan puncak-puncak prestasi anak-anak kita dari seluruh Indonesia yang tujuannya kita ingin anak-anak kita ini bisa menampilkan prestasi masing-masing, potensi masing-masing, bakat masing-masing, sehingga mereka bisa menyumbangkan yang terbaik sebagai bagian dari prestasi anak-anak kita dan sekolah-sekolah kita, tetapi yang paling penting sebenarnya selain menampilkan puncak prestasi, juga menanamkan masalah pendidikan karakter,” imbuhnya.

Hamid Muhammad tak langsung turun dari panggung, mewakili Kemendikbud, ia menyerahkan cenderamata dan piagam penghargaan kepada perwakilan dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yakni Sri Sultan Hamengkubuwono X. Gubernur Provinsi DIY ini lalu menyerahkan pataka O2SN kepada Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad.

Sri Sultan Hamengkubuwono X lalu memberikan pidato sambutan. Dari ajang O2SN ini diharapkan dapat membangun watak bangsa.

“Saya ucapkan selamat atas keberhasilan O2SN 2018 ini. Semoga suasana Yogyakarta, selain memberikan kesan, juga membawa pesan betapa pentingnya peningkatan prestasi olahraga sebagai sarana membangun watak bangsa yang gigih, tak kenal menyerah sebelum hasilnya tercapai,” tutur Gubernur Provinsi DIY ini.

“Sedangkan untuk para peraih medali saya ucapkan selamat dan sukses, dengan harapan terus berkelanjutan meningkatkan prestasinya. Sebaliknya, bagi yang kalah harus menerima kekalahan itu secara sportif sebagai cambuk untuk bangkit kembali,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk kemudian secara resmi menutup O2SN ke-XI ini. Upacara Penutupan O2SN lalu dilanjutkan dengan pengumuman Juara Umum. Provinsi Bali dinobatkan sebagai Juara Umum O2SN 2018 dengan  raihan 17 medali emas, 4 medali perak, 11 medali perunggu; peringkat dua ditempati Provinsi Jawa Timur dengan 16 medali emas, 12 medali perak, 13 medali perunggu; peringkat ketiga yakni Provinsi Jawa Tengah dengan 16 medali emas, 9 medali perak, 9 medali perunggu. O2SN pun resmi memiliki juara umum baru yakni Provinsi Bali.

Piala Bergilir O2SN diserahkan oleh Gubernur Provinsi DIY kepada Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Bali Gede Agus Rai. Kemudian pencahayaan di GOR Among Rogo diredupkan, pesona budaya ditampilkan melalui Tari Bekakak oleh Duta Seni Pelajar DIY 2018.

Saparan bekakak merupakan sebuah upacara adat yang digelar oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman, pada setiap tahun di bulan sapar dalam kalender Jawa, guna mengenang jasa seorang abdi dalam kesayangan Sri Sultan HB I, yakni Ki Wirosuto.

Ki Wirosuto meninggal setelah tertimpa reruntuhan batu gamping. Setelah kejadian meninggalnya Ki Wirosuto tersebut, Sri Sultan HB I memberikan titah kepada rakyat Ambarketawang, agar masyarakat menggelar saparan bekakak.

Bekakak merupakan bentuk wujud sepasang manusia yang terbuat dari nasi ketan, berisi gula Jawa, sebagai perwujudan Ki Wirosuto dan istrinya.

Pertunjukan Tari Bekakak itu pun meninggalkan kesan mendalam bahwasanya Yogyakarta merupakan kota seni, budaya dan pendidikan. Terima kasih O2SN 2018 di Yogyakarta, sampai jumpa di O2SN 2019!