Tahukah Kamu Apakah Modern Pentathlon Itu?

O2SN

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

O2SN, Yogyakarta – Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SMP Tingkat Nasional Tahun 2018 tak sekadar memiliki muatan kompetisi. Salah satu tujuan O2SN yakni memotivasi peserta didik agar gemar berolahraga serta meningkatkan wawasan olahraga. Motivasi dan wawasan itulah yang didapatkan pada sesi talk show motivasi O2SN SMP cabang olahraga renang yang dilaksanakan di Innside By Melia Yogyakarta, Rabu (19/9/2018).

Kobaran semangat motivasi itu didapatkan karena pematerinya merupakan atlet aktif yakni Fitriyani dan Adrianida Irma Saleh. Fitriyani merupakan peraih medali emas Asian Games 2018. Fitriyani bersama Puji Lestari, Aries Susanti Rahayu, Rajiah Sallsabillah yang tampil sebagai tim putri Indonesia 1 pada nomor kecepatan beregu putri panjat tebing berhasil menjadi yang terbaik di Asia setelah menaklukkan tim China 1. Sedangkan Adrianida Irma Saleh merupakan atlet timnas Indonesia cabang modern pentathlon pada Asian Games 2018.

Apakah kiranya modern pentathlon? Cabang olahraga tersebut terdiri dari renang (200 meter gaya bebas), anggar (EPEE), berkuda (show jumping), lari (800 meter x 4), menembak (5 sasaran jarak 10 meter). Adrianida sendiri memiliki basic sebagai perenang. Untuk menguasai modern pentathlon upaya keras pun dilakukannya, terutama untuk menambal kekurangannya pada lari.

“Tes renang saya tinggi, sedangkan tes lari saya jelek. Pelatnas maunya kelimanya bagus,” kata Adrianida di Innside By Melia Yogyakarta, Rabu (19/9/2018).

Catatan waktu larinya semula untuk mencapai 400 meter membutuhkan waktu 5 menit. Pada pelatnas modern pentathlon menurutnya terdapat 5 pelatih yang masing-masing memegang renang, anggar, berkuda, lari, menembak. Pelatih larinya sempat enggan untuk melatih Adrianida karena catatan waktunya yang di bawah standar tersebut.

Meski begitu Adrianida terus berlatih, berlatih, berlatih untuk menanggulangi kekurangannya di sisi lari. Latihan keras yang dilakukannya hingga menyebabkannya sempat mengalami cedera engkel. Begitu mengalami cedera itu tahulah sosok kelahiran Yogyakarta, 4 Maret 1997 ini bahwa dirinya memiliki flat foot. Flat foot secara anatomi bagus untuk renang, tapi tidak bagus dipakai berlari. Mengetahui fakta itu apa yang dilakukan oleh Adrianida? Sosok yang sedang menempuh pendidikan S1 Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini ternyata tetap latihan, latihan, dan latihan. Ia pun tak menghiraukan pandangan yang mempertanyakannya di tempat latihan (di Ragunan) yang menilainya terlalu lamban dalam berlari. Rekan lainnya sudah sampai tahap pendinginan, Adrianida masih di tahap program.

Kerja keras Adrianida untuk memperbaiki larinya akhirnya berbuah manis. Setelah 2 bulan akhirnya ia dapat ikut program. Ia pun secara signifikan memperbaiki catatan waktunya yakni dalam jarak 400 meter dicapainya dalam waktu 3 menit. Dan catatan itu terus dipertajam hingga ia mampu mencapai jarak 3.200 meter dalam waktu 13 menit.

“Mau latihan terus. Bisa nggak bisa, hajar aja. Titik dimana kamu direndahkan, kamu harus tetap maju,” pesan Adrianida kepada para siswa peserta dan pelatih O2SN SMP cabang renang.