Belajar dari Para Juara Olimpiade

O2SN

Trilogy pertama Star Wars dimulai dari episode 4, 5 dan 6

Photo: star wars trilogy

O2SN, Yogyakarta – Berada di grup F, unggulan 3 O2SN SMP cabang bulu tangkis Roy Tadeus Jumintra sejauh ini masih on the track. 2 partai di babak penyisihan berhasil dimenangkannya. Pada hari Senin (17/9/2018) Roy berhasil menang 21-11, 21-13 atas Muhammad Farid Akbar (Aceh). Pada hari Selasa (18/9/2018) Roy menang dengan skor 21-19, 21-10 atas M.Rizki Akbar (Riau). 2 kemenangan ini menjadi bekal berharga baginya untuk menempati posisi puncak di grup F dan lolos ke babak selanjutnya.

Roy memiliki harapan sebagai atlet kelas dunia. Ia pun memiliki role model juara Olimpiade yakni Taufik Hidayat dan Lin Dan. Seperti diketahui Taufik Hidayat meraih medali emas Olimpiade 2004. Sedangkan Lin Dan merengkuh medali emas Olimpiade 2008 dan 2012.

“Atlet idola saya Taufik Hidayat juga Lin Dan. Mainnya taktis, nggak banyak gerak. Pokoknya prestasi mereka sudah lengkap,” kata Roy seusai pertandingan di GOR Klebengan, Selasa (18/9/2018).

“Saya pengen sih kayak gitu. Moga-moga juara Olimpiade,” tutur Roy yang bergabung di klub bulu tangkis Asep Suharno Badminton Academy.

Untuk mencapai tujuan besar tersebut latihan rutin pun dilakukannya. Roy latihan dari Senin-Sabtu.

“Saya latihannya pagi dan sore. Pagi bisa 3-4 jam. Latihannya teknik. Kalau sore bisa 2 jam dengan latihan fisik seperti angkat besi,” ujar siswa SMPN 17 Tangerang Selatan ini.

Roy pun terus berevolusi mengembangkan kemampuannya. Salah satunya dengan menghadapi lawan yang memiliki ragam cara permainan.

“Setiap orang kan beda-beda cara mainnya. Kalau lawan yang beda-beda bisa makin banyak variasi mainnya. Di Sirkuit Nasional saya sering ketemu unggulan. Mereka susah dimatiin sama serangan bolanya macam-macam dan speed-nya juga beda.

Sementara itu pelatih bulu tangkis O2SN SMP dari Provinsi Banten Mulyadi berharap dari ajang O2SN ini menjadi wahana regenerasi atlet.

“Mudah-mudahan dengan ajang O2SN terciptalah sebagai pengganti atlet-atlet yang senior yang selama ini berkiprah di Sea Games, Asian Games, Olimpiade,” ujar sosok yang juga guru PJOK di Madinatul Hadid Cilegon.

Ia pun memberi masukan kepada Roy Tadeus Jumintra agar tidak secara “cuma-cuma” memberikan angka kepada lawan.

“Setiap istirahat minum, kita evaluasi kelemahannya dimana. Kekurangannya dimana. Contohnya dia beberapa kali mati sendiri bolanya. Kadang-kadang ke kiri, kadang-kadang ke belakang. Terlalu ngedorong di belakang. Ya hal itu yang diubah,” jelas Mulyadi.