Nasional – Banyaknya jumlah penduduk suatu negara tidak bisa menjadi jaminan bangsa tersebut dapat masuk di laga Piada Dunia. Sebab, untuk menghasilkan sebuah tim nasional yang tangguh untuk berlaga di ajang dunia dibutuhkan pembinaan yang berjenjang dan serius.

Demikian disampaikan Instruktur  Pelatihan Pelatih Sepakbola Lisensi D, Satia Bagdja Ijatna saat memberikan materi terhadap 34 peserta pelatihan di POR PELITA, Sawangan, Senin (10/12/2018).

Satia Bagdja mengatakan jika keunggulan tim nasional ditentukan oleh jumlah penduduk, seharusnya China menjadi negara yang masuk Piala Dunia. Tapi, itu hingga saat ini China belum pernah masuk dalam ajang bergengsi sepakbola dunia ini.

“Kalau sepakbola bicara dilihat dari jumlah penduduknya seharusnya China masuk, kan jumlah penduduknya lebih dari 1 miliar. Yang kedua India jumlah penduduknya juga sangat besar kemudian Indonesia yang jumlah penduduknya saat ini sekitar 250 juta jiwa,” ujarnya.

Namun, yang bisa mewakili Asia di ajang sepakbola dunia adalah negara yang secara luas wilayah kecil dan memiliki jumlah penduduk juga sedikit. “Yang mewakili Asia sebut saja Jepang dan Korea Selatan yang jumlah penduduknya sangat kecil,” katanya.

Keberhasilan Jepang misalnya dapat masuk mengikuti piala dunia karena negara ini benar-benar melakukan pembinaan sepakbola sejak usia dini. Mereka melakukan pembinaan yang sangat serius dan berproses.

“Jepang bisa melahirkan timnas yang unggul juga melalui proses pembinaan yang sangat panjang sejak dini,” katanya.

Maka itu, dengan adanya Pelatihan Pelatih Sepakbola Indonesia Lisensi D bagi guru Penjasorkes SMP ini menjadi langkah serius dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pembinaan sejak dini di sekolah-sekolah. Sehingga ke depan Indonesia bisa masuk dalam ajang Piala Dunia.

“Masih banyak orang bilang, masa jumlah penduduk 250 juta sangat sulit mencari 11 pemain yang hebat. Pernyataan seperti ini harus segara kita jawab dengan pembinaan pemain sepakbola sejak dini di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Satia berharap seluruh peserta yang mengikuti pelatihan ini untuk menyerap seluruh ilmu yang diberikan. Sehingga mereka saat pulang ke daerah masing-masing bisa membawa oleh-oleh yang sangat berharga.

“Bapak-bapak inilah yang kelak akan melahirkan para bintang dari sekolah-sekolah. Maka itu serius mengikuti pelatihan ini sehingga pas pulang nanti bisa mempratekan ilmu yang telah didapat untuk diajarkan di sekolah-sekolah. Kemajuan sepakbola Indonesia akan ditentukan di tangan bapak-bapak juga,” pesannya.

Comments