Pembukaan Festival Literasi Sekolah Nasional ke-3 Tahun 2019

Jakarta – Pembukaan Festival Literasi Sekolah Nasional ke-3 Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang di ikuti dari Jenjang Pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, dan Sekolah Berkebutuhan Khusus perwakilan dari berbagai daerah Indonesia, di Gedung Plaza Insani Berprestasi. Sebelum pembukaan Festival Literasi Siswa Nasional ke-3 diresmikan, acara tersebut disambut meriah dengan iringan lagu Indonesia Raya dan Mars Gerakan Literasi Sekolah oleh paduan suara oleh SMP Negeri 1 Kota Tangerang dan Tari Kembang Tarub oleh SMA 57 Jakarta.

Festival Literasi Sekolah Nasional resmi dibuka oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam pembukaan Bapak Muhadjir Effendy memberikan pernyataan “bahwa literasi menjadi salah satu tolok ukur kemajuan segala bangsa dan alat untuk memajukan sebuah bangsa salah satunya adalah dengan literasi”. Di negara kita tingkat literasi masih sangat minim dan kita harus mengejar ketertinggalan tersebut. Menurut Bapak Menteri, membaca bukanlah hanya sekedar membaca, akan tetapi tentang bagaimana cara kita untuk dapat memahami dan dapat mengembangkan nalar. Seringkali kita membaca hanya sekedar membaca huruf bukan untuk memahami apa makna dari rangkaian huruf tersebut.

Membaca tidak hanya dengan membaca lewat huruf, akan tetapi segala apapun yang ada di alam senmesta ini dapat kita baca dan kita pahami. Pada masa kini kita hanya membaca sekedar teks padahal masih banyak lagi pemaknaa yang masih harus digali.

Baca Juga  Peserta OSN 2019 SMP “IPA itu Menarik”

Seharusnya program literasi tak hanya sekedar ditekankan dengan kegiatan seremonial, karena masih banyak diberbagai daerah yang masih harus disupport lebih jauh seperti di Papua. Kemampuan Literasi bukan hanya dinilai dari seberapa lancarnya membaca, akan tetapi bagaimana siswa dapat memahami segala macam simbol-simbol yang ada.

Tradisi yang perlu dikembangkan dalam penerapan literasi bukan hanya dengan menyuruh siswa untuk sekedar membaca, akan tetapi diberikan tugas untuk mengembangkan dan mengekspresikan terkait apa yang dibaca agar siswa tak hanya sekedar tahu, akan tetapi bisa paham secara mendalam. Kita masih harus bekerja keras untuk meningkatkan literasi pada siswa dan menghapus tradisi membaca yang bertahun-tahun mengalami kekeliruan.

Penulis : Shesvika Putri Anjani
Foto : Arraafi, S.Kom

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top