Mengenal “Sasak Cupak Gerantang” Cerita Rakyat dari Pulau Lombok, NTB

Jakarta – Cupak Gerantang adalah salah satu dari sekian cerita rakyat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok yang ditampilkan pada acara Pekan Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Istora Senayan, Jakarta, Jum’at 11 Oktober 2019.

Cerita rakyat Gumi Sasak yang semakin hari semakin memudar karena “serangan” modernisasi dan juga karena kepedulian. Berceritakan tentang kakak adik yang bertentangan sifat. Cupak dan Gerantang dua orang yang sangat berbeda. Cupak seseorang yang berprawakan tambun dan tinggi besar, rakus, pendengki, licik, suka berbohong dan mencuri menjadi sifatnya. Wajahnya pun jelek dan seram, tidak sopan dan tutur katanya kasar. Gerantang seorang adik berprawakan tegap namun luwes, berwajah tampan nan gagah, jujur, baik, tutur katanya halus, sopan, dan pemaaf menjadi sifatnya.

Kedengkian dan iri hati yang menyelimuti hati Cupak membuatnya dendam dan berusaha membunuh adiknya, Gerantang. Namun sang adik terus memaafkan apapun yang telah diperbuat Cupak untuk menyingkirkannya. Kejahatan pasti akan kalah dengan kebaikan, seperti itulah tujuan adanya cerita rakyat yang selama ini kita dengar atau baca dalam kehidupan sehari-hari. Sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh Gerantang tersebut mungkin bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Harapan Gesima Peserta OSN Tahun 2019

Salah satu peserta yang bernama Boleng asal dari Mataram Nusa Tenggara Barat yang telah memperkenalkan salah satu cerita rakyat Sasak Cupak Gerantang yang berasal dari pulau lombok. Cupak Gerantang sebagai simbol manusia bagaimana manusia kadang-kadang baik, kadang-kadang jahat.

Adapun harapan yang diungkapkan Boleng “Semoga Pekan Kebudayaan Nasional semakin berbudaya untuk kedepannya. Mari bersama bangun generasi Indonesia dengan kecintaan dan kebanggaan Nusantara. Tak perlu membanggakan budaya luar, karena kita sudah memiliki segalanya bahkan lebih dari mereka.”

Penulis : Rizka Dwi Jayanti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top