Dari Memecahkan Buret Hingga Lagu ‘Tanah Airku’ yang Berkumandang di Botswana

Internasional – Arin Nahda Zhafira mendapatkan pengalaman berharga kala mengikuti The 15th International Junior Science Olympiad (IJSO). Arin tergabung di Tim Indonesia B bersama dengan Edward Humianto dan John Howard Wijaya. Pada IJSO 2018, Arin mendapatkan medali perunggu. Tak sekadar berkompetisi dengan para peserta dari lintas negara, Arin juga mereguk pengalaman berharga pada sesi wisata edukasi dan malam budaya.

“Untuk wisata edukasi kita kayak ada ke sabana gitu, taman singa gitu, tapi kita tidak melihat singanya. Jadi kita bermain di situ, ada kolam renang, roller coaster. Wisata edukasinya kebanyakan taman safari, sabana, sama taman itu,” kata Arin Nahda Zhafira di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (13/12/2018).

Untuk malam budaya kita ada latihan nyanyi sama ada latihan koreografi sedikit-sedikit gitu. Nyanyi Tanah Airku sama Yamko Rambe Yamko. Kami bangga, bisa mempresentasikan Indonesia di luar negeri, tapi sayangnya nggak kedengaran suaranya, meski begitu apresiasi orang luar tetap bagus untuk Indonesia. Pokoknya saya bersyukur bisa menampilkan itu di malam budaya,” terang pelajar kelas IX SMPN 1 Giri Banyuwangi ini.

Dari Memecahkan Buret Hingga AC Motel yang Mati

Peserta IJSO melakoni tes multiple-choice questions, teori, dan eksperimen. Dari ragam tes tersebut, Arin memiliki pengalaman unik kala tes eksperimen.

“Saya paling ingat yang experimental test. Saya bagian Kimia. Saya mecahin buret. Buretnya nggak mau berhenti-henti jadi saya kencenginabis gitu pecah. Alhamdulillah nggak dapat penalti. Saya juga nggak bisa nyelesain titrasinya. Nggak dapat data. Jadi saya berpikir menggunakan logika,” terang peraih medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP Tahun 2018 ini.

Jika dibandingkan dengan OSN yang juga menyertakan tes eksperimen, Arin memandang ada perbedaannya dengan IJSO.

Baca Juga  Selamat mengikuti OSN SMP 2019

“Kalau OSN kan belum kenal, belum latihan, jadi baru kenal saat itu juga. Kalau yang ini kita sudah latihan bareng, kenal hampir 4 bulanan, jadinya mulai bisa memahami satu sama lain,” ungkap Arin.

Seperti diketahui keenam peserta didik yang dikirim ke Botswana merupakan para peraih medali di Olimpiade Sains Nasional jenjang SMP Tahun 2018. Mereka merupakan sosok-sosok terpilih melalui pembinaan sistematis yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMP. Sebelum terjun ke IJSO 2018, seleksi dan pengayaan materi dilakukan melalui training center (TC) 1 yang berlangsung selama 2 minggu, training center 2 selama 1 bulan, dan training center 3 dalam durasi 1,5 bulan.

“Kalau training center 1 full materi sesuai silabus. Training center 2 materi sesuai silabus dan mulai ada praktikumnya. Training center 3 kita lebih fokus ke latihan soal sama latihan untuk experimentalkelompoknya,” jelas Arin mengenai penempaan yang dialaminya beserta kawan-kawannya untuk mengikuti IJSO.

Selama di Botswana pada 2 s.d. 11 Desember 2018, cuaca sangat panas dan kering dialami negara di benua Afrika ini. Arin pun bercerita tentang pengalaman antik yang dialaminya.

“Karena sudah tahu Botswana itu negara kecil, maka saya tak berharap terlalu banyak. Jadi pengalamannya seru sih, tapi gimana gitu. Kita kan di motel, di motel sekamar berempat, kita sekamar dengan orang Botswana yang ceweknya. Ada 2 bilik gitu, satunya ruang tidur utama, satunya kayak ruang tamu yang dikasih kasur, nggak ada AC-nya, pakai kipas di atas gantung. Hari pertama, kedua mati, baru diperbaiki sekitar hari ketiga, kita jadinya share AC dengan orang Botswana itu, pintunya dibuka. Itu pengalaman-pengalaman seru,” urai Arin Nahda Zhafira.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top