Cakalele, Tari Perang dari Maluku

Jakarta – Penampilan Tarian Cakalele dari Maluku dalam Acara Pekan Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Istora Senayan, Jakarta, Jum’at 11 Oktober 2019.

Di Maluku terdapat satu tarian yang identik dengan kaum pria, yaitu Cakalele. Tarian Cakalele tercipta sebagai gambaran semangat mempertahankan martabat dari para penjajah. Dalam kehidupan masyarakat tradisi, roh nenek moyang selalu dilibatkan dengan harapan diberi perlindungan. Selanjutnya kepercayaan tersebut dikembangkan menjadi suatu tarian dalam upacara adat.

Tari cakalele dibawakan secara berkelompok. Kemudian ada pula penari yang diibaratkan sebagai pemimpin perang serta penari yang membawa tombak. Sang pembawa tombak ini menyimbolkan lawan perang. Selain membawa tombak ada juga yang membawa parang dan salawaku.

Para penari biasanya memakai kostum berupa pakaian perang. Warna yang didominasi merah dan kuning tua. Pemimpin tarian yang biasa disebut dengan kapitan, menggunakan penutup kepala yang dihiaskan hiasan dari bulu ayam.

Salah satu peserta yang bernama Richard asal ambon memperkenalkan sebuah tarian tradisional  Cakalele yang berasal dari Maluku. Cakalele memiliki makna penjagaan dari serangan. Saya sangat senang dapat menampilkan ciri khas dari daerah kami. Selain itu kami juga menampilkan tarian tradisional bambu gila, yaitu sebatang bambu dipegang oleh beberapa orang, lalu oleh dukun bambu ini diberi mantera. Terdapat juga didaerah kami yaitu budaya pela gandong sebagai bingkai pemersatu kebudayaan yaitu sebutan yang diberikan kepada dua atau lebih negeri yang saling mengangkat saudara satu sama lain. Yang biasanya pela gandong itu terdiri dari dua negeri yang berlainan agama sehingga mereka hidup rukun dan damai walau berbeda agama.

Baca Juga  Direktur PSMP memandu diskusi Region Papua & Papua Barat

Adapun Harapan yang diungkapkan Richard “Semoga Acara ini dapat dibuat setiap tahunnya, agar kami bisa ikut berpartisipasi karena persatuan daerah itu adalah kebanggan bagi kita bersama, Indonesia”.

Semoga dengan adanya Acara Pekan Kebudayaan Nasional generasi muda dapat melestarikan budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Penulis : Rizka Dwi Jayanti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top